TVRINews, Palembang
Kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di Sumatera Selatan mencapai 52.483 kasus sepanjang September 2026. Jumlah tersebut meningkat 11,62 persen dibandingkan Agustus 2026 yang mencatat 47.020 kasus.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan menunjukkan, angka kasus pada September menjadi yang tertinggi sepanjang 2026, melampaui catatan Februari sebanyak 51.115 kasus dan Januari sebanyak 50.651 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, Ira Primadesa, menjelaskan bahwa jumlah kasus ISPA sepanjang tahun ini mengalami fluktuasi. Setelah cenderung tinggi pada awal tahun, kasus menurun pada Mei dan Juni, kemudian kembali meningkat sejak Juli hingga September.
“Jumlah kasus ISPA mengalami perubahan dari bulan ke bulan. Pada September 2026, jumlah kasus tercatat sebanyak 52.483 kasus, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini menjadi perhatian kami dalam upaya pemantauan dan pencegahan penyakit di masyarakat,” ujar Ira Primadesa.
Secara kumulatif, jumlah kasus ISPA di Sumatera Selatan selama Januari hingga September 2026 mencapai 401.191 kasus. Meski demikian, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025, yang mencapai 411.700 kasus.
Sementara itu, berdasarkan pencatatan Oktober 2026, terdapat 11.359 kasus ISPA. Jumlah kasus harian tertinggi pada periode tersebut tercatat pada 6 Oktober, yakni sebanyak 2.267 kasus.
Peningkatan kasus ISPA menjadi perhatian di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.
Paparan asap dan partikel pencemar udara dapat memicu atau memperburuk gangguan pernapasan. Kelompok anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan riwayat penyakit pernapasan perlu mendapat perhatian khusus.
Ira mengimbau masyarakat untuk mengurangi paparan asap, terutama ketika kualitas udara memburuk.
“Kami mengimbau masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kondisi udara berasap. Jika harus beraktivitas di luar, gunakan masker yang sesuai dan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan pernapasan,” katanya.
Masyarakat juga diminta mewaspadai gejala seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau gangguan pernapasan lainnya, terutama jika keluhan semakin memburuk.
Dinas Kesehatan mengingatkan bahwa upaya menjaga kesehatan perlu dilakukan bersamaan dengan pengendalian karhutla untuk mengurangi paparan asap dan risiko gangguan pernapasan di masyarakat.










