TVRINews, Palembang
Jumlah titik panas atau hotspot di wilayah Sumatera Selatan kembali meningkat. Berdasarkan data pemantauan pada Senin, 12 Oktober 2026, tercatat sebanyak 1.917 titik panas, bertambah 369 titik dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai 1.548 titik.
Dari total tersebut, sebanyak 1.153 titik panas terpantau berada di lahan gambut, sedangkan 764 titik lainnya berada di lahan mineral.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumatera Selatan, Sudirman, mengatakan dominasi titik panas di kawasan gambut menjadi perhatian serius dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
“Peningkatan jumlah titik panas ini menjadi perhatian kami, terutama di kawasan gambut. Pemantauan dan patroli terus dilakukan untuk mengantisipasi munculnya titik api serta mencegah kebakaran meluas,” ujar Sudirman.
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, luas lahan yang terbakar hingga Oktober 2026 telah mencapai lebih dari 6.552 hektare.
Upaya penanganan karhutla terus dilakukan oleh Satuan Tugas Karhutla Sumatera Selatan melalui pemadaman darat dan udara. Namun, pelaksanaan pemadaman melalui udara masih bergantung pada kondisi cuaca dan jarak pandang di lokasi kebakaran.
Sudirman menjelaskan, kondisi cuaca dan kabut asap menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan operasi pemadaman, khususnya melalui udara.
“Operasi pemadaman melalui udara sangat bergantung pada kondisi cuaca dan jarak pandang. Jika kabut asap terlalu pekat, pelaksanaan water bombing tidak dapat dilakukan secara optimal. Selain itu, keterbatasan sumber air dan sulitnya akses menuju lokasi kebakaran juga menjadi kendala di lapangan,” katanya.
Di tengah meningkatnya jumlah titik panas, upaya pemantauan dan penanganan terus diperkuat untuk mencegah munculnya titik api baru serta menekan perluasan area kebakaran.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam membuka area pertanian maupun perkebunan, serta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan indikasi kebakaran hutan dan lahan.










