TVRINews, Palembang
Kabut asap yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Selatan tidak hanya berdampak terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat, tetapi juga mulai memengaruhi sektor pariwisata dan perhotelan.
Di Kota Palembang, memburuknya kualitas udara akibat kabut asap turut berdampak pada tingkat keterisian kamar hotel. Penurunan okupansi hotel dilaporkan mencapai 20 hingga 30 persen.
Selain tingkat hunian kamar, kondisi kabut asap juga memengaruhi aktivitas rapat, pertemuan, hingga kegiatan korporat yang selama ini menjadi bagian dari bisnis hotel.
Sejumlah kegiatan yang melibatkan peserta dari luar daerah berisiko dikurangi, ditunda, maupun disesuaikan ketika kondisi udara dinilai kurang mendukung.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Selatan, Sholahudin Arsyad, mengatakan persoalan kabut asap tidak hanya menjadi isu lingkungan dan kesehatan, tetapi juga memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kabut asap ini tidak hanya menjadi isu lingkungan dan kesehatan, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, salah satunya pada bisnis perhotelan,” ujar Sholahudin Arsyad dikutip Selasa, 6 Oktober 2026.
Menurutnya, penanganan karhutla dan pengendalian kabut asap diharapkan dapat segera ditanggulangi. Langkah tersebut penting untuk menjaga kesehatan masyarakat sekaligus mempertahankan aktivitas ekonomi di Sumatera Selatan.
“Penanganan karhutla dan pengendalian kabut asap diharapkan dapat segera ditanggulangi, untuk menjaga kesehatan masyarakat sekaligus mempertahankan aktivitas ekonomi di Sumatera Selatan,” pungkasnya.










