TVRINews, Lampung
Provinsi Lampung memasuki babak baru dalam pembangunan berbasis data melalui peluncuran satelit hiperspektral Lampung-1 yang dilengkapi teknologi kecerdasan artifisial (AI).
Peluncuran satelit tersebut menjadi bagian dari implementasi kerja sama sister province antara Provinsi Lampung dan Provinsi Shandong, Tiongkok.
Lampung-1 berhasil diluncurkan dari perairan Haiyang, Provinsi Shandong, Tiongkok, pada Rabu, 5 Agustus 2026 menggunakan roket Smart Dragon-3 dalam misi OSE Hyperspectral Twin Satellites.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyaksikan langsung peluncuran bersama delegasi Pemerintah Provinsi Lampung, Pemerintah Provinsi Shandong, STAR.VISION Aerospace, serta sejumlah mitra internasional.
"Ini adalah momen yang sangat membanggakan. Yang kami saksikan hari ini bukan sekadar peluncuran sebuah satelit, tetapi dimulainya babak baru kerja sama internasional yang akan membantu Lampung memanfaatkan teknologi antariksa dan kecerdasan artifisial untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan," ujar Rahmat Mirzani Djausal.
Menurutnya, peluncuran Lampung-1 merupakan tindak lanjut konkret kerja sama sister province yang telah dibangun sejak 2025. Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan pertanian modern, teknologi, investasi, perdagangan, infrastruktur, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Rahmat menegaskan kerja sama tersebut tidak hanya sebatas pemanfaatan citra satelit, tetapi juga mencakup transfer pengetahuan, riset bersama, pengembangan aplikasi berbasis data, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
"Yang kami bangun bukan sekadar akses terhadap data satelit. Ini adalah kerja sama jangka panjang untuk membangun kompetensi, mengembangkan aplikasi, dan menjadikan data sebagai dasar pengambilan keputusan yang lebih cepat dan lebih presisi," katanya.
Dalam implementasinya di Indonesia, Pemerintah Provinsi Lampung akan bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Seluruh data yang dihasilkan satelit akan melalui proses kalibrasi, validasi, analisis, dan pengolahan sebelum dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan daerah.
Kolaborasi dengan BRIN juga bertujuan memastikan pemanfaatan data berjalan sesuai standar ilmiah, tata kelola data, serta regulasi penginderaan jauh yang berlaku di Indonesia.
Sektor pertanian menjadi prioritas awal pemanfaatan Lampung-1. Teknologi satelit akan digunakan untuk pemetaan lahan, pemantauan kondisi tanaman, identifikasi kekurangan air, deteksi dini gangguan tanaman, hingga memperkirakan potensi produksi. Salah satu komoditas yang mulai dikembangkan melalui pemanfaatan data tersebut adalah singkong.
Selain pertanian, data satelit juga berpotensi dimanfaatkan untuk pengelolaan lingkungan, pemantauan wilayah pesisir dan kelautan, mitigasi banjir dan kekeringan, pemantauan perubahan tutupan lahan, serta mendukung perencanaan pembangunan yang lebih presisi.
"Teknologi ini bukan menggantikan petani. Teknologi ini membantu petani dan pemerintah mengambil keputusan yang lebih baik, lebih cepat, dan lebih tepat sasaran," ujar Rahmat.
Lampung-1 dirancang sebagai satelit hiperspektral yang memiliki kemampuan AI untuk membantu pemrosesan awal data di orbit sehingga informasi yang dikirim ke bumi dapat lebih cepat dimanfaatkan. Meski demikian, satelit masih akan menjalani tahapan pemeriksaan sistem, stabilisasi, kalibrasi sensor, pengujian muatan, serta validasi kualitas data sebelum digunakan secara penuh.
"Keberhasilan sesungguhnya bukan hanya ketika roket mencapai orbit, tetapi ketika teknologi yang dibawanya benar-benar membantu menyelesaikan tantangan pembangunan di daerah," katanya.
Kerja sama tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas talenta Indonesia di bidang teknologi satelit dan penginderaan jauh. Sejumlah pelajar, personel BRIN, Telkom, serta aparatur sipil negara Pemerintah Provinsi Lampung memperoleh kesempatan belajar di STAR.VISION Aerospace.
STAR.VISION juga melibatkan insinyur asal Indonesia, termasuk lulusan Institut Teknologi Bandung, dalam pengembangan teknologi satelit. Menurut Rahmat, hal tersebut menunjukkan Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga bagian dari ekosistem pengembangannya.
"Investasi terbesar dari kerja sama ini bukan hanya teknologi yang diluncurkan ke ruang angkasa, tetapi manusia yang dipersiapkan untuk memahami, menguasai, dan memanfaatkannya," ujarnya.
Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan pembangunan dan peluncuran Lampung-1 tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Seluruh pembangunan, kepemilikan, pengoperasian, serta tanggung jawab teknis satelit berada di bawah STAR.VISION Aerospace, sedangkan Pemerintah Provinsi Lampung berperan sebagai mitra dalam pengembangan pemanfaatan teknologi dan data untuk pembangunan daerah.
"Harapan kami sederhana, teknologi ini benar-benar menjadi solusi bagi persoalan masyarakat dan menjadi contoh bahwa kerja sama internasional dapat menghasilkan manfaat nyata bagi pembangunan daerah," pungkas Rahmat Mirzani Djausal.









