TVRINews, Palembang
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru meminta Forum Emas Khatulistiwa atau FEK Sumsel tidak berhenti sebagai organisasi seremonial. Forum yang menghimpun 72 suku di Sumatera Selatan itu diminta menjadi benteng pelestarian budaya sekaligus perekat kerukunan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Herman Deru saat menghadiri silaturahmi bersama elemen masyarakat Khatulistiwa sekaligus pengukuhan Pengurus FEK Sumatera Selatan periode 2026–2031.
Herman Deru mengapresiasi terbentuknya kepengurusan FEK. Menurutnya, keberadaan forum yang menghimpun berbagai latar belakang suku tersebut dapat memperkuat semangat Bhinneka Tunggal Ika sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam menjaga kondusivitas daerah.
“Sebagai pimpinan daerah bersama Wagub dan Forkopimda, kami merasa bertambah organisasi di provinsi ini yang dapat menjadi perpanjangan tangan dalam penyelesaian berbagai problem yang ada di daerah kita,” ujar Herman Deru.
Ia menegaskan, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur. Stabilitas sosial, ketenteraman, kebersamaan, dan semangat gotong royong juga menjadi modal penting bagi kemajuan Sumatera Selatan.
“Kalau ketenteraman dan kegotongroyongan itu tidak sejalan, pasti akan keropos dalam pembangunannya,” tegasnya.
Herman Deru meminta FEK membuktikan keberadaannya melalui program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia mengingatkan, organisasi yang menghimpun 72 suku tersebut memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga persatuan sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan daerah.
“Jangan sampai organisasi budaya yang kita kukuhkan ini hanya untuk seremonial saja. Dengan keberagaman suku dan budaya, FEK harus dapat berperan membangun daerah Sumsel,” katanya.
Selain menjadi wadah silaturahmi, FEK juga didorong menjadi benteng pertahanan budaya. Herman Deru mengingatkan agar adat dan budaya yang dimiliki masing-masing suku tidak tergerus perkembangan zaman.
“Saya tidak ingin masing-masing budaya daerah punah. Kita hormati, kita hidupkan. Mari kita mempertahankan dan mengembangkannya. Syukur-syukur bisa menjadi kekuatan ekonomi,” ujarnya.
Menurut Herman Deru, keberagaman budaya bukan sekadar identitas masyarakat, tetapi juga memiliki potensi ekonomi apabila dikembangkan secara kreatif.
Pelestarian budaya dapat dilakukan dalam berbagai aktivitas masyarakat, termasuk dengan tetap menggunakan adat dan tradisi dalam momentum penting seperti pernikahan.
“Minimal ke depan, setiap suku dan budaya ini kalau ada saudara yang sedang di pelaminan tetap memakai adat dan budayanya,” ungkap Herman Deru.
Sementara itu, Ketua Umum FEK Sumsel Ghofar Pasolong mengatakan pengurus segera menjalankan sejumlah program setelah resmi dikukuhkan.
Menurut Ghofar, salah satu fokus utama FEK adalah memperkuat kebersamaan antarsuku sekaligus menjaga Sumatera Selatan tetap aman dan harmonis.
“Setelah pengukuhan ini, kami akan melaksanakan sejumlah program. Intinya adalah bagaimana menjaga Sumsel tetap kompak dan zero conflict,” ujar Ghofar.
Dengan berhimpunnya 72 suku dalam satu organisasi, FEK Sumsel diharapkan mampu menjadi ruang bersama untuk memperkuat komunikasi, menjaga kerukunan, serta menyelesaikan berbagai persoalan sosial melalui semangat kebersamaan.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan juga berharap keberagaman suku dan budaya dapat terus dijaga sebagai kekuatan sosial sekaligus modal pembangunan daerah.










