TVRINews, Palembang
Banyak warga Palembang melintasi deretan bangunan tua di kawasan pasar dan pertokoan lama setiap hari. Namun, tidak banyak yang mengetahui sejarah maupun cerita yang tersimpan di balik fasad bangunan-bangunan tersebut. Hal itulah yang mendorong seniman lokal Yogie Oscar Rozenda atau Ody Yogi menghadirkan pameran lukisan cat air bertajuk Tampak Depan.
Pameran yang berlangsung pada 2–16 Agustus 2026 itu menampilkan sejumlah lukisan bangunan bersejarah di Kota Palembang. Melalui sapuan cat air, Ody mencoba mengajak pengunjung melihat bangunan-bangunan lama bukan sekadar sebagai objek arsitektur, melainkan bagian dari perjalanan panjang kota yang masih menyisakan jejak cerita hingga kini.
Ide pameran muncul dari kegemarannya menyusuri kawasan kota tua bersama para pemandu wisata lokal. Dari perjalanan tersebut, ia mengenal berbagai kisah mengenai pemilik bangunan, aktivitas perdagangan pada masanya, hingga perubahan wajah Palembang yang terus berlangsung.

Pengalaman itu kemudian ia tuangkan ke dalam karya-karya cat air yang selama tiga tahun terakhir menjadi medium utama berkaryanya. Ketertarikannya pada teknik tersebut berawal dari kekagumannya terhadap ilustrator asal Polandia, Mateusz Urbanowicz, yang dikenal melalui karya-karya urban sketching.
Berbekal latar belakang di bidang komunikasi visual dan desain grafis, Ody menghadirkan lukisan yang tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga mengandung cerita yang mengajak penikmatnya berhenti sejenak dan memperhatikan detail-detail kota.
Menurut Ody, setiap karya dibuat setelah ia mengamati langsung bangunan yang akan dilukis dan memahami kisah yang melatarbelakanginya.
“Pameran ini adalah bentuk ajakan untuk berhenti sejenak di tengah riuh pertambahan usia kota. Saya tidak berfokus melukis kemegahan fisik bangunan, melainkan berupaya merekam memori dan rasa yang tertinggal setelah mendengar kisah hidup di balik fasad tersebut,” ujarnya.
Ia memilih judul Tampak Depan karena fasad merupakan bagian pertama yang dilihat seseorang ketika berhadapan dengan sebuah bangunan. Dari bagian itulah, menurutnya, muncul kesan awal yang kemudian berkembang menjadi rasa ingin tahu terhadap sejarah di baliknya.
Melalui karakter cat air yang ringan dan ekspresif, Ody tidak berusaha menghasilkan gambar arsitektur yang sepenuhnya akurat. Sebaliknya, ia ingin menangkap suasana yang membuat setiap bangunan terasa memiliki kehidupan.
“Sering kali kita melewati sebuah toko lama setiap hari tanpa benar-benar menyadari siapa yang membangunnya atau kenangan apa yang ditinggalkan di sana. Ketika kita mulai tahu sejarahnya, bangunan itu tak lagi terasa asing, melainkan menjelma sebagai teman bisu yang setia menjaga identitas kota ini,” katanya.
Bagi Ody, setiap bangunan lama menyimpan memori kolektif yang layak dikenang. Karena itu, ia berharap pameran ini dapat membangkitkan kepedulian masyarakat terhadap warisan sejarah yang masih berdiri di tengah perkembangan Kota Palembang.
“Proses sketsa langsung di lapangan memberi saya ruang untuk mendengarkan alur waktu. Lewat sapuan cat air yang spontan dan cair, saya ingin mengajak pengunjung melihat sudut-sudut Palembang dengan rasa empati dan kehangatan yang baru,” tutupnya.









