TVRINews, Sumatera Selatan
Upaya penanganan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan terus dilakukan melalui pemanfaatan teknologi dry ice. Memasuki hari ketiga pelaksanaan, upaya tersebut menunjukkan perkembangan positif dengan meningkatnya jarak pandang hingga 6.000 meter.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengatakan, penerapan teknologi dry ice telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut dengan penggunaan sekitar 1,5 ton bahan setiap hari dan melibatkan dua pesawat. Perkembangan jarak pandang tersebut menjadi salah satu indikator yang dipantau dalam upaya mengurangi dampak kabut asap di sejumlah wilayah.
Hal itu disampaikan Herman Deru seusai mengikuti rapat koordinasi penanganan karhutla bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi di Base Ops Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH), Palembang, Minggu, 18 Oktober 2026.

“Alhamdulillah, hari ini jarak pandang bertambah menjadi 6.000 meter. Teknologi dry ice ini sudah memasuki hari ketiga, setiap hari menggunakan 1,5 ton dengan dua pesawat. Koordinasi terus kami lakukan bersama Menteri, BMKG, dan BNPB,” ujar Herman Deru.
Menurut Herman Deru, sinergi lintas kementerian dan lembaga menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla. Upaya tersebut dilakukan melalui pemadaman di lapangan serta pemanfaatan teknologi untuk membantu mengurangi dampak kabut asap.
Dalam kesempatan yang sama, Herman Deru mendampingi Kepala BNPB Kristomei Sianturi yang datang ke Sumatera Selatan untuk melihat langsung penanganan karhutla sekaligus mengevaluasi kebutuhan daerah dan dukungan yang diperlukan dari pemerintah pusat.
Kristomei mengatakan, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat pelaksanaan penanggulangan karhutla di daerah sekaligus menyelaraskan langkah pemerintah pusat dan pemerintah daerah agar penanganan berjalan efektif, cepat, dan tepat sasaran.
“Kita sudah berkoordinasi. Tinggal bagaimana kita mengefektifkan upaya yang dilakukan Satgas Karhutla agar benar-benar efektif, cepat, dan tepat,”ungkap Kristomei.
Ia menambahkan, sesuai dengan arahan Presiden, efektivitas penggunaan teknologi dry ice dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga menjadi perhatian. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kedua upaya tersebut membantu penanganan karhutla, termasuk kemungkinan penerapannya di wilayah lain di Indonesia.
“Kalau teknologi ini dianggap bagus, tidak terlalu banyak memakan biaya, dan bisa diaplikasikan di seluruh wilayah Indonesia, mengapa tidak? Kita akan terus melakukan upaya ini seefektif mungkin,”ucapnya.
Kristomei juga menyampaikan bahwa berdasarkan data yang dimiliki BNPB, Kalimantan Tengah menjadi wilayah yang mendapat perhatian utama dalam penanganan karhutla, disusul Sumatera Selatan. Karena itu, koordinasi dan dukungan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah diperlukan untuk mendukung upaya penanganan di lapangan.
Selain dukungan pemerintah, ia mengingatkan pentingnya keterlibatan masyarakat dan pihak swasta, khususnya pemilik konsesi, dalam mencegah munculnya titik api baru.
Menurutnya, upaya pemadaman yang dilakukan Satuan Tugas (Satgas) Karhutla akan sulit mencapai hasil maksimal apabila pembakaran lahan masih terjadi. Oleh karena itu, seluruh pihak perlu bekerja sama mencegah kebakaran sekaligus mengurangi dampak kabut asap yang dirasakan masyarakat.
“Mari kita bersatu, baik pemerintah daerah, masyarakat maupun pihak swasta. Kita atasi kebakaran ini bersama-sama karena dampaknya dirasakan oleh semua, bukan hanya satu atau dua orang,” tegasnya.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama pemerintah pusat dan seluruh unsur terkait akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan serta mengevaluasi langkah penanganan yang telah dilakukan. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu mengendalikan karhutla dan mengurangi dampak kabut asap bagi masyarakat.










