TVRINews, Sumatera Selatan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan menetapkan lima kabupaten sebagai wilayah zona merah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penetapan ini dilakukan menyusul meningkatnya jumlah kejadian kebakaran selama periode musim kemarau 2026.
Masyarakat di wilayah rawan kebakaran pun diminta meningkatkan kewaspadaan serta tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar yang berpotensi memicu meluasnya karhutla.
Berdasarkan data BPBD Sumatera Selatan, tercatat sebanyak 321 kejadian karhutla terjadi di berbagai wilayah Sumsel sejak 1 Januari hingga 11 Juli 2026.
Dari jumlah tersebut, lima kabupaten masuk kategori zona merah karena masing-masing mencatat lebih dari 30 kejadian kebakaran. Kelima wilayah itu yakni Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir atau PALI dengan 57 kejadian, Musi Banyuasin 49 kejadian, Ogan Ilir 42 kejadian, Banyuasin 37 kejadian, dan Muara Enim sebanyak 33 kejadian.
Sementara itu, empat wilayah masuk dalam kategori zona oranye, yaitu Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) dengan 19 kejadian, Kota Palembang 18 kejadian, serta Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Rawas Utara masing-masing sebanyak 17 kejadian.
Adapun enam wilayah lainnya masih berada pada kategori zona kuning. Sedangkan Kota Pagar Alam dan Kabupaten Empat Lawang menjadi dua daerah yang masih berstatus zona hijau karena belum ditemukan kejadian karhutla sepanjang 2026.
Selain jumlah kejadian, BPBD Sumsel juga mencatat luas lahan yang terbakar berdasarkan pemantauan citra satelit SIPONGI periode Januari hingga Mei 2026 mencapai lebih dari 305 hektare.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah, mengingat puncak musim kemarau berpotensi meningkatkan ancaman kebakaran, khususnya di kawasan dengan lahan gambut dan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
"Kami mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Apabila menemukan adanya titik api, segera laporkan kepada petugas agar dapat dilakukan penanganan sejak dini dan kebakaran tidak meluas," ujar BPBD Sumatera Selatan.
Menghadapi potensi peningkatan karhutla, pemerintah daerah bersama BPBD dan instansi terkait terus melakukan berbagai langkah pencegahan, mulai dari patroli terpadu, pemantauan titik panas atau hotspot, hingga sosialisasi kepada masyarakat.
BPBD Sumatera Selatan berharap keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan yang dapat berdampak terhadap kesehatan, lingkungan, serta aktivitas ekonomi masyarakat.
Dengan meningkatkan kesiapsiagaan bersama, pemerintah optimistis risiko karhutla selama musim kemarau tahun ini dapat ditekan.










