TVRINews - Lubuklinggau
Persatuan Ekosistem Desa Mandiri (Perkopdesi) Pusat mendorong penguatan ekosistem koperasi di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui penguatan kemitraan antarkoperasi desa dan kelurahan.
Bendahara Umum Perkopdesi Pusat, Alya Maqdis, melakukan kunjungan kerja ke Lubuklinggau, Sabtu, 3 Oktober 2026 hari ini. Kunjungan tersebut sekaligus menjadi bagian dari persiapan Nusa Ekonomi Expo 2026 yang akan digelar pada 11–13 Desember mendatang.
Alya mengatakan, Lubuklinggau menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena memiliki jumlah anggota Perkopdesi yang cukup besar. Kondisi ini dinilai menjadi potensi untuk membangun jaringan usaha antarkoperasi.
Ia menjelaskan, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) tidak hanya berfungsi sebagai lembaga ekonomi di tingkat desa dan kelurahan, tetapi juga dapat membentuk rantai pasok dan pasar antarkoperasi.
“Ketika kita bicara ekosistem, KDKMP merupakan ekosistem perekonomian yang nyata. Hubungan kemitraan ini memungkinkan produk antarkoperasi saling melengkapi dan langsung diserap oleh pelaku usaha seperti hotel dan restoran, tanpa harus bergantung pada agen atau pasar konvensional,” ujar Alya.
Menurut Alya, pola tersebut telah terlihat di Desa Pamijahan, Bogor. KDKMP di wilayah tersebut mengembangkan berbagai produk, mulai dari beras, ikan, hingga produk UMKM, yang kemudian diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat diterapkan di Lubuklinggau dengan menyesuaikan potensi masing-masing wilayah.
Untuk memudahkan pemetaan dan pengembangan, Perkopdesi mengelompokkan KDKMP ke dalam tiga klaster, yaitu KDKMP Agrinas, KDKMP Mandiri, dan KDKMP On Progress.
Sementara itu, Ketua Perkopdesi Kota Lubuklinggau terpilih, Azani, mengatakan jumlah anggota organisasi di wilayahnya kini hampir mencapai 70 orang. Sebagian besar anggota merupakan pengurus dan praktisi koperasi.
Azani mengatakan, agenda terdekat Perkopdesi Lubuklinggau adalah pelantikan pengurus yang direncanakan berlangsung pada akhir tahun. Setelah pelantikan, organisasi akan menyusun program kerja untuk memperkuat ekosistem koperasi di daerah.
“Sebagai organisasi baru, fokus terdekat kami secara nasional adalah pelantikan pengurus di akhir tahun ini. Setelah itu, kami akan langsung merumuskan program kerja secara rinci untuk membangun ekosistem koperasi di Lubuklinggau,” kata Azani.
Ia mengajak para pengurus, pelaku, dan insan koperasi di Lubuklinggau untuk membangun sinergi dan memperkuat kolaborasi. Menurutnya, pengembangan koperasi membutuhkan keterlibatan bersama agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Penguatan ekosistem koperasi di tingkat daerah diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas, meningkatkan produktivitas anggota, serta mendorong koperasi menjadi salah satu penggerak perekonomian masyarakat Lubuklinggau.










