TVRINews, Palembang
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Sumatera Selatan sejak akhir Agustus 2026 turut berdampak terhadap aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di Kota Palembang.
Kondisi udara yang memburuk membuat sebagian masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Sejumlah tempat ikonik yang biasanya ramai dikunjungi, seperti kawasan Jembatan Ampera, turut mengalami penurunan jumlah pengunjung.
Berkurangnya kunjungan masyarakat tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan pelaku UMKM yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas wisata dan keramaian.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, penurunan jumlah pengunjung di sejumlah kawasan UMKM diperkirakan mencapai 30 hingga 50 persen. Kondisi ini turut memengaruhi pendapatan para pedagang.

(Foto: TVRI Sumsel)
Selain aktivitas perdagangan, kabut asap juga berdampak terhadap sektor usaha lainnya. Penghentian sementara kegiatan car free night, misalnya, turut mengurangi peluang pelaku UMKM memperoleh penghasilan dari aktivitas tersebut.
Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan pelaku UMKM di sepanjang tepian Sungai Musi, tetapi juga oleh berbagai sektor usaha lainnya.
Menurunnya kualitas udara menimbulkan dampak berlapis, mulai dari sektor ekonomi, kesehatan, pendidikan, hingga sosial. Masyarakat berharap kondisi kabut asap dapat segera berakhir agar aktivitas dan perekonomian kembali berjalan normal.










