TVRINews, Sumatera Selatan
Proses pembuatan kemplang tunu secara tradisional membutuhkan ketelitian dan tenaga yang cukup besar. Setiap keping kemplang harus terus dibolak-balik di atas bara agar matang secara merata dan tidak gosong.
Persoalan tersebut menjadi salah satu latar belakang pengembangan Inovasi Termal Adaptif Nusantara atau INTAN oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa Karya Inovatif (PKM-KI) Universitas Padjadjaran. Tim pengembang terdiri atas Irfan Fransisco dan Iwan Ridwan Ramdani dari Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi, Ahmad Faruq dari Teknik Informatika, Daryl Yudhopatria dari Fisika, serta M. Rafi Aulia Amrullah dari Teknologi Pangan.
INTAN menggabungkan proses pemanggangan menggunakan bara dengan sistem pembalikan otomatis, pemantauan suhu, serta layar kontrol berbasis mikrokontroler. Teknologi ini dirancang untuk mengurangi pekerjaan berulang yang selama ini dilakukan oleh operator selama proses pemanggangan.
Pengembangan inovasi tersebut dilakukan berdasarkan kebutuhan pelaku UMKM di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan. Tingginya permintaan kemplang tunu, terutama pada momen seperti Lebaran, kerap tidak sebanding dengan kapasitas produksi dan ketersediaan tenaga kerja.
Dosen Pembimbing Tim PKM-KI, Andri Yanto, mengatakan INTAN berpotensi diaplikasikan oleh pelaku UMKM kemplang tunu di wilayah lain.
"Sebagai bentuk karya inovasi yang aplikatif dari Tim PKM-KI, INTAN hadir memberikan dampak nyata dalam meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi para pelaku UMKM Kemplang Tunu di seluruh wilayah Sumatera bagian Selatan (Sumbagsel), bahkan di luar wilayah Sumbagsel," jelas Andri, dikutip Selasa 1 September 2026.
Meski menggunakan teknologi, INTAN tetap mempertahankan penggunaan bara yang menjadi ciri khas kemplang tunu. Modernisasi proses produksi dilakukan tanpa menghilangkan karakter dan cita rasa tradisional produk tersebut.
Ketua Tim PKM-KI, Irfan Fransisco, mengatakan inovasi INTAN tidak ditujukan untuk menghilangkan karakter tradisional dalam proses pemanggangan kemplang tunu.
"INTAN tidak dirancang untuk menghilangkan karakter tradisional pemanggangan Kemplang Tunu menggunakan bara," ujar Irfan.
Inovasi ini diharapkan dapat membantu pelaku UMKM menghasilkan kemplang tunu dengan tingkat kematangan yang lebih konsisten sekaligus meningkatkan efisiensi produksi.
INTAN menjadi salah satu contoh pemanfaatan teknologi untuk menjembatani tradisi dengan kebutuhan industri modern. Dengan tetap mempertahankan identitas dan karakter produk pangan lokal, inovasi tersebut diharapkan dapat membuka peluang pengembangan usaha serta memperluas jangkauan pasar kemplang tunu.









