TVRINews, Palembang
Pemerintah Kota Palembang memperkuat upaya perlindungan dan pemenuhan hak anak melalui Taman Anak Sejahtera (TAS) “Wong Kito”. Kehadiran fasilitas ini menjadi salah satu inisiatif untuk menghadirkan ruang pengasuhan yang aman sekaligus mendukung tumbuh kembang anak sejak usia dini.
Bunda Literasi Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, mengatakan TAS “Wong Kito” diharapkan tidak berhenti sebagai fasilitas pengasuhan, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan yang ramah anak di Kota Palembang.
Menurut Dewi, kebutuhan anak tidak hanya berkaitan dengan pendidikan formal. Anak juga membutuhkan pengasuhan, perlindungan, stimulasi, interaksi sosial, serta lingkungan yang mendukung perkembangan fisik dan mental.
“TAS Wong Kito ini merupakan salah satu bentuk ikhtiar kita untuk memberikan ruang yang aman dan nyaman bagi anak. Di sini anak bisa belajar, bermain, bersosialisasi, sekaligus mendapatkan pendampingan yang sesuai dengan tahap tumbuh kembangnya,” ujar Dewi, Selasa, 11 Agustus 2026.
TAS “Wong Kito” memberikan perhatian khusus kepada anak usia dini, terutama usia 3–4 tahun. Pada fase tersebut, perkembangan kemampuan dasar anak berlangsung sangat pesat sehingga membutuhkan pola pengasuhan dan stimulasi yang tepat.
Keberadaan TAS juga diharapkan dapat membantu orang tua yang memiliki aktivitas dan tanggung jawab di luar rumah, dengan tetap memastikan anak mendapatkan pengasuhan dan pendampingan yang baik.
Dewi mengapresiasi dukungan Kementerian Sosial Republik Indonesia, khususnya Sentra “Budi Perkasa” Palembang, dalam menghadirkan TAS di Kota Palembang.
Ia menilai perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan pemerintah, keluarga, masyarakat, dunia pendidikan, serta berbagai organisasi dan lembaga terkait.
“Tidak mungkin perlindungan anak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Kita membutuhkan kolaborasi keluarga, masyarakat, TP PKK, Bunda PAUD, para pendamping dan pengasuh, serta dunia pendidikan agar lingkungan yang ramah anak benar-benar terwujud,” katanya.
Besarnya jumlah anak di Kota Palembang juga menjadi alasan pentingnya penguatan ekosistem perlindungan dan pengasuhan anak.
Data BPS Kota Palembang mencatat pada tahun ajaran 2024/2025 terdapat 977 sekolah, lebih dari 362 ribu peserta didik, dan sekitar 21 ribu guru di Kota Palembang.
Jumlah tersebut menjadi potensi sekaligus tanggung jawab dalam menyiapkan generasi penerus yang sehat, mandiri, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan masa depan.
Melalui TAS “Wong Kito”, pemerintah berharap penguatan pengasuhan dapat dimulai sejak fase awal kehidupan anak. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Hari Anak Nasional 2026 yang mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”.
Dewi berharap TAS “Wong Kito” dapat terus memberikan manfaat bagi anak dan keluarga serta menjadi salah satu contoh inisiatif nyata dalam membangun lingkungan yang berpihak kepada kepentingan terbaik anak.
“Yang paling penting adalah bagaimana anak-anak kita merasa aman, mendapatkan pendampingan yang baik, dan memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh serta mengembangkan potensinya. Ini yang harus kita jaga bersama,” pungkasnya.








